Sample Widget

Jumat, 29 Mei 2009

TEAM BUILDING

Latar Belakang



Pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial tidak akan bisa mencapai keberhasilan secara individual, melainkan harus bekerjasama dengan orang lain oleh karena itu diperlukan sebuah metoda tertentu.
Seperti kita ketahui manusia adalah insan individual, insan sosial dan insan yang ber Ketuhanan. Namun sering kali manusia tidak menyadari eksistensinya secara utuh. Oleh karenanya sebagai insan Individual kita perlu selalu mengasah kemampuan dan profesionalisme, sebagai insan sosial kita wajib bergaul dan bekerjasama dengan sesamanya, sedangkan sebagai manusia yang ber Ketuhanan kita perlu menyadari akan hakekat kehidupan ini terhadap Allah SWT Tuhan yang Maha Pencipta.
Berdasarkan itulah maka Team Building dimaksudkan untuk membangun rasa kesetiakawanan, kebersamaan, komunikasi, keterbukaan,emphaty, saling menghargai, integritas pribadi, menia- dakan prasangka, membangun persepsi yang sama meniadakan egoisme sektoral ; Untuk mencapai suatu tujuan bersama
Dalam proses Team Building selalu terjadi “Dinamika dan Romantika”, Suka dan duka, sehingga dibutuhkan sejumlah nilai-nilai dan norma-norma (Norma& Valves) yg menjadi komitmen bersama.
Jika seluruh anggota kelompok (Team) telah memiliki nilai-nilai yang sama, maka akan terbentuk sifat, sikap dan perilaku yang sama dari seluruh team dalam mencapai /mewujudkan Tujuan.
Dalam prosesnya membangun nilai-nilai tersebut perlu adanya simulasi perilaku, yaitu dalam berbagai Game/Fun Game (Indoor, outdoor) dan outbond (Penjelajahan). Setiap permainan mengan- dung pesan moral atau makna yang harus diimplementasikan oleh seluruh peserta dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di dalam pekerjaan.
Oleh karena itu setiap akhir permainan seluruh peserta akan mendapatkan penjelasan dari Instruktur tentang pesan moral at makna (Filosofi) dari setiap permainan.
Nilai dan norma satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan dalam sebuah perilaku untuk membangun SDM yang seutuhnya, untuk itu menentukan kemampuan instruktur yang dapat menjelaskan contoh-contoh perilaku dlm kehidupan sehari-hari sehingga Team Building jadi lebih hidup

Tujuan

1. Membantu peserta menjadi orang yang berprestasi/ berkarya lebih baik.
2. Membantu peserta mampu lebih mengenali kelebihan dan kekurangan diri akan
keterampilan dan pengetahuan dalam profesinya.
3. Membantu peserta mampu lebih mengenali kelebihan dan kekura ngan kawan akan
keterampilan dan pengetahuan dalam profesinya.
4. Membantu peserta mampu menyusun rencana pribadi yang khas rasional ;sejalan
dengan tujuan organisasi/perusahaan/ lembaga dimana ia bekerja.

Sasaran

1. Berkaitan dengan fikiran :
- Bertindak cepat dengan benar dalam mengatasi setiap problem dilapangan.
- Mengembangkan kemampuan berimajinasi dalam menghadapi problem dilapangan.
- Meningkatkan keterampilan dan ilmu pengetahuan dengan belajar dari pengalaman.
- Lebih menghayati pola pikir dan perilaku orang-orang yang berprestasi dan
menyesuaikan diri padanya.

2. Berkaitan dengan fisik :
- Kebugaran,keseimbangan,keakuratan,kelenturan,kelincahan, dan kecepatan.

3. Berkaitan dengan Mental :
- Keberanian,kegembiraan,kesabaran,kecerdikan &kecermatan.

4. Berkaitan dengan interaksi sosial :
- Memahami kelebihan dan kekurangan diri (siapa saya dan saya orang yang
bagaimana).
- Memahami kelebihan dan kekurangan kawan.
- Memanfaatkan kelebihan kawan dan diri sendiri untuk team
- Menutup kekurangan kawan dg kelebihan diri sendiri agar team dapat berjalan.
- Membangun kebersamaan
- Saling mendorong maju dan bekerja sama sesama profesi dalam mencapai tujuan
masing-masing

Metoda

Metoda yang digunakan adalah : Pendidikan Pengalaman (Experience Based Education) dg menggunakan Kerangka pemahaman Experiential Learning (Proses Pembelajaran melalui pengalaman).
Pelaksanaannya disesuaikan dengan tahapan usaha perubahan perilaku manusia, yaitu tahap :

1. Unfreezing/Melting (Pencairan) adalah pencairan sikap dan pola pikir serta
perilaku lama melalui penampilan dan pembahasan model sikap lain yang lebih
membawa kesuksesan.

2. Changing/Moving merupakan suatu gerakan perpindahan, hijrah atau perubahana
kearah sikap baru yang lebih baik.

3. Refreezing/Forming adalah pemantapan atau pembekuan sikap dalam bentuk sikap baru
yang lebih baik dan implementasinya

Pada Experiential Learning, peserta aktif mempraktekan keahlian yang dipelajari untuk kemudian melakukan refleksi serta kajian atas apa yang telah peserta praktekkan
Materi
1. Integrated Personality Quality Improvement
Perubahan sikap dan pola pikir (Mental Switching) menjadi pribadi yang
profesional, yaitu pribadi yang dapat lebih mengenal dirinya secara baik,
menerima serta berupaya memanfaatkan seoptimal mungkin potensinya. Menyikapi diri
agar tidak trauma terhadap kegagalan (post power syndrome).
Materi ini dapat mebantu peserta untuk lebih mengenali kelebihan dan kekurangan
pribadinya (potret diri) terutama dalam perencanaan, pengelolaan, pengambilan
resiko, tingkat keyakinan, belajar dari pengalaman, kesungguhan dalam menangani
sesuatu serta bagaimana memamfaatkannya untuk kemajuan diri.

2. Positive Thinking
Konsep sikap dasar dalam menghadapi masalah adalah berpikir positif (Positive
Thinking). Secara psikologis dan prinsip-prinsip perilaku, manusia dapat
berinteraksi secara optimal satu dengan lainnya apabila sudah saling mengenal
dan hambatan-hambatan secara personal sudah mampu dihilangkan.

3. Building Trust
Materi ini diarahkan kepada pembentukan kepercayaan diri dan keberanian
menghadapi masa depan. Penumbuhan kesadaran mau memimpin dan dipimpin, sikap
yakin dan percaya kepada kemampuan diri dan orang lain, memegang keparcayaan yang
diberikan kepadanya serta belajar untuk bertanggung jawab atas tugas yang
diembannya. Selain itu dibangun pula keberanian ,keyakinan & kepasrahan Kepada
Tuhan Yang Maha Pencipta.

Untuk menginplementasikan semua materi tersebut, maka dilakukan kegiatan dalam bentuk diskusi, pengisian Kuesioner, Game, Fun Game (outdoor/indoor), outbond.

4. Kilas Balik
Pada Materi ini peserta menyaksikan tayangan rekaman semua kegiatan dari pertama
sampai terakhir.
Materi ini membantu peserta mereview kembali tentang Siapa Saya dan Saya itu
Orang Yang Bagaimana.

5. Penetapan Tujuan (Goal Setting)
Pada Materi ini setelah peserta/kelompok lebih mengenal Siapa Saya/ Kelompok
dan Saya/Kelompok itu Orang yang Bagaimana tiap peserta/ kelompok menetapkan
tujuan dimasa yang akan datang yang dibuat dalam bentuk Ikrar yang masing-masing
dibacakan didepan peserta/ kelompok lain.

6. Fantasia
Fantasia merupakan materi puncak dimana peserta diajak bersama untuk melakukan
refleksi tentang Kelebihan dan Kekurangannya (Siapa Saya dan Saya itu Orang yang
Bagaimana) dan sudah sejauh mana aplikasinya selama ini yang berhubungan
dengan :
- Pekerjaan
- Keluarga
- Lingkungan Masyarakat
- Pendidikan
- Kegemaran
- Keyakinan/Agama
- Kekayaan

Penutup

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan peserta melakukan kegiatan untuk mendapatkan pengalaman dan bukti-bukti tentang ketidak efektifan tingkah laku lamanya yang kemudian bisa melakukan refleksi serta kajian atas apa yang telah peserta praktekan sebelumnya sehingga timbul niat untuk memperbaikinya khususnya yang berhubungan denganperusahaan dimana tempat paserta bekerja

INSTRUKTUR, PEMANDU, DAN FASILITATOR TEAM BUILDING


PEMANDU & PESERTA